CANDU SOSIAL, LIMA DAMPAK PERKEMBANGAN YANG TIDAK SELALU BAIK
Siapa sangka perkembangan teknologi
saat ini memberikan dampak terhadap berbagai macam lini kehidupan manusia. Percepatan
informasi dan komunikasi, kemudahan dalam akses kebutuhan, meningkatnya
penjualan dan transaksi online, meningkatkan kekuatan brand secara meluas tanpa
terhalang jarak, kemudahan aktifitas-aktifitas virtual yang terus meningkat,
dan lainnya. Apapun yang dihasilkan dari perkembangan ini, ada aspek positif
dan negatifnya terhadap kehidupan manusia. Jika hal demikian positif dan
mendukung perkembangan masyarakat, sangat perlu untuk diapresiasi, dikembangkan
dan ditindak-lanjuti. Namun, bagaimana jika sebaliknya? Hanya memberikan dampak
negatif dan malah menjerumuskan mental masyarakat yang tidak berkembang. Berikut
adalah dampak negatif dari perkembangan teknologi, yang dalam hal ini dengan
adanya handphone dan maraknya penggunaan media sosial.
Pertama: Kecanduan
Kecanduan ini bisa dilihat dari aktifitas
sehari-hari yang tidak bisa lepas dari teknologi, seperti kebutuhan setiap
orang dengan adanya handphone. Jika dulu alarm menggunakan jam weker sekarang sudah
terganti oleh handphone. Sebelum tidur dan ketika terbangun pun handphone selalu
setia menemani. Bagi penggiat media sosial, kerap kali ketika ‘kegabutan’
melanda stalking status sosial pertemanan dan sesekali memberikan like
atau comment sudah menjadi kebiasaan. Bahkan setiap menit sekalipun,
meskipun chat dari kawan sudah terbalas dan tidak ada pembaharuan chatting,
sering kali tangan terus membuka aplikasi chatting, scroll chatting-chatting
yang sudah dibuka sebelumnya, membuka grup kemudian membaca ulang obrolan yang
sudah dibaca, jika sudah tuntas kemudian berpindah menilik status yang diperbaharui.
Begitulah seterusnya.
Kedua: Responsif
Semakin mudahnya memperoleh
informasi membuat orang cenderung cepat bersikap terhadap kejadian yang baru
diterimanya tanpa melakukan validasi terhadap kejadian tersebut. Responsif
terhadap pristiwa-pristiwa terkini bukanlah tidak baik, menjadi tidak baik jika
dilakukan dengan langsung berkomentar dan memberikan statement negatif,
menghakimi, atau bahkan ‘nyinyir’ tanpa memperjelas fakta dari informasi
tersebut. Bahkan dari informasi yang diterimanya, tanpa berpikir panjang dan
melakukan validasi fakta langsung diteruskan ke grup media sosial dan
mengklaimnya menjadi keyakinan yang jika dibantah oleh anggota grup lainnya
berimbas pada perdebatan yang tidak berujung.
Ketiga: Lupa Waktu
Adanya handphone menjadikan beberapa
aktifitas berpindah dalam genggaman. Jadi kondisi ini menyebabkan beberapa
orang tiak bisa terpisah dari sosok smartphone nya. Bahkan sekarang, setiap
orang bisa memegang sampai 3 handphone sekaligus. Status produktifitas dan konsumerisme
terkadang abu-abu dalam segenggam smartphone, sesekali dengan niat besar melihat
video edukasi melalui kanal Youtube atau sejenis misalnya bisa berpindah
seketika menjadi video hiburan yang melintas kala itu. Bahkan bisa keterusan
terlena dengan video hiburan selanjutnya yang ditampilkan dengan memerhatikan
ketertarikan pengguna. Lain dari itu, dalam ketertarikan menikmati game misalnya,
beberapa orang jika sudah benar-benar menjadi candu dalam menikmati game bisa berimbas
dengan lupa terhadap waktu. Bahkan kesehariannya bisa dihabiskan dengan bermain
game dan mencoba game-game baru yang dekat dengan ketertarikannya. Beda cerita pada
sisi positif, jika game yang dimainkan memberikan produktifitas dan penghasilan.
Keempat: Etika Bahasa Sulit Terjaga
Komunikasi menggunakan media sosial cenderung disikapi oleh setiap orang dengan cara yang berbeda-beda. Jika dahulu, kata-kata dalam komunikasi melalui Pager/SMS seringkali disingkat untuk memperingkas teks pesan dengan minimal pesan bisa dipahami. Ternyata menyikapi hal itu, beberapa orang merasa hal demikian tidaklah cukup etis. Apalagi dengan banyaknya aplikasi perpesanan yang sudah tidak membatasi banyaknya teks saat ini. Misalnya ketika menyapa orang tua, dosen, tokoh/pejabat, mitra bisnis, jika dilakukan dengan menyingkat setiap katanya agaknya kurang etis. Hal inilah yang terkadang beberapa diantara generasi saat ini kurang memahaminya, siapa yang diajak dan bagaimana menggunakan bahasa dalam berkomunikasi.
Kelima: Lahirnya Generasi Menunduk
Istilah ‘Generasi Menunduk’ saya peroleh dalam diskusi bersama dengan teman di warung kopi. Istilah ini menarik karena melihat efek adanya handphone ini, ‘obrolan’ di warung kopi pun selalu terjeda dengan sesekali menunduk melihat layar handphone yang bersinar. Komunikasi terkadang tidak dilakukan dengan saling bertatap, melainkan hanya memungsikan indra pendengar saja dan sesekali kesadaran terfokus ke layar handphone dan komunikasi butuh diulang untuk kedua kalinya. Bahkan dalam kondisi-kondisi lainnya seperti berjalanpun fokus bisa teralihkan. Sungguh generasi menunduk. Dampak negatif lainnya akan dibahas dalam pembahasan lebih dalam dalam tulisan yang berbeda nantinya. (L)
Ditulis dengan sadar dalam sebuah refleksi harian
Melihat Transformasi Dunia yang 'tak bisa terabaikan
Musi Rawas, 22 Mei 2021
Ini bagus untuk dijadikan artikel. Btw, poin nomor 4 betul sekali, sekarang semakin mudah setiap orang untuk berbicara di media sosial, namun justru mirisnya etika dalam berbahasa malah semakin menyeramkan. Seolah sudah jadi hal yang lumrah untuk berkata-kata yang tidak baik, kasar atau pun jorok. Ckckck.
BalasHapus