BEGINI CARA SAYA BELAJAR DARI KEHIDUPAN (PART 1)

Setiap orang punya perjalanan hidupnya masing-masing, ucapan yang sudah sangat familiar dan mungkin basi jika terdengar memantul di gendang telinga. Dimana dia dibentuk dan dimana dia terbentur untuk kuat dan terus maju serta menyentuh finish terbaik dari hidupnya. Kemudian dimana dia berakhir dengan diri yang terbaiknya yaitu husnul khotimah, akhir yang baik. Di usia saya saat ini yang sudah pada dekade keempat dari hitungan kepala pada penyebutannya. Belum sampai finish, namun setiap perjalanan yang saya lalui memberikan pemaknaan yang menarik dalam setiap hidup. Setiap tanah punya langit yang berbeda-beda. Saya lahir di Pulau 1000 Masjid, kemudian dipupuk pondasinya di Tanah Jawa Timur, besar di Tanah Ngayogyakarto, dan menebar me-nusantara dengan mengambil permaisuri dari Tanah Sriwijaya, Sumatera Selatan. Ini adalah bentukan setiap jalan yang terus saya terima. Tentu Anda juga merasakan perjalanan hidup yang cukup menarik jika dirasakan dan dinikmati.
Dari sekian banyak perjalanan yang saya temui, malam ini saya berbincang-bincang dalam dengan seorang bapak bertubuh gempal dengan kulit sawo matang. Rambutnya tipis memutih hampir memenuhi daerah tumbuh rambutnya, titik-titik keringat mengalir dari dahinya, nafasnya sesenggal dengan rokok yang sesekali yang dia hisap kemudian asapnya terhembus menebar di langit malam, garis kantung matanya jelas nampak terpantul di balik lampu kuning malam yang tergantung disudut rumahnya. Dia kemudian berdiri menyapaku, tubuhnya seperti memanggil untuk merapat dan duduk bersama sambil berbincang-bincang. Spontan tanganku melambai dan tersenyum mendekatinya kemudian duduk disamping kursi tuanya. Dia memulai membuka obrolan, “Saya sudah benar-benar mantap, mas.” Terusnya, saya pun tersenyum.
Orang yang saya temui ini bernama Pak Sarinoto, teman bapak mertua saya mancing. Kalau saja bapak ini bertemu bapak, pasti obrolannya seharian tidak akan habis bahkan tidak mau pulang kalau tidak dipaksa pulang sama istrinya. Dari situlah saya ketemu dan mengenal sosok bapak ini. Dialah yang dengan sangat yakin mewakafkan tanahnya untuk digunakan sebagai sekolah pendidikan quran.
Dia menceritakan keyakinannya kenapa dia benar-benar mantap, “Sudah tujuh tahun saya terus berpikir, mas.., sampai akhirnya tepat tahun lalu saya kuatkan niat saya. Saya sampaikan maksud saya sama mamak (ibu) untuk mewakafkan tanah ini.” Lanjut kisahnya memecah obrolan malam ini.
“Saya sudah mantap dan yakin sepenuhnya, sambil nangis saya menyampaikan ini ke mamak. Kemana larinya harta kalau saya sudah mati nanti. Mungkin ini bisa jadi amal saya,” Dia berkisah sambil tersedu. Suaranya bergetar. “Siapa tahu dengan adanya pendidikan quran ini besok kamu-kamu (anaknya) bisa jadi amal dan masyarakat bisa menuai hasilnya,” kisahnya tulus.
Bangunan ini memang sudah terbangun tiga ruang kelas dengan jenjang pendidikan Iqro dan Quran. Sudah sekitar 98 anak yang terdata mengaji disini dari jenjang PAUD sampai SMA, tenaga pendidik masih belum seberapa jumlahnya, baru ada 3 orang dan usia mereka sudah sepuh-sepuh. Tapi jika melihat semangat mereka (tenaga pengajar), mereka seperti anak muda yang masih berapi-api berbagi dan bergerak untuk mencerdaskan generasi quran. Mereka tidak dibayar sama sekali. Bahkan sebelum bangunan ini berdiri tegak, mereka sudah mengabdi pada dalamnya lautan ilmu dengan mengajarkan Quran di rumah mereka masing-masing. Mungkin inilah yang membuat hati Pak Sarinoto bergetar dan menguatkan niatnya mewakafkan tanahnya untuk pendidikan quran. Kemudian menghimpun sampai 98 anak untuk mencicipi nikmatnya menimba ilmu di gedung ini.
Belum selesai obrolan kami, bapak yang pernah berada di dunia kelam itu melanjutkan ceritanya. “Begini mas, ini sebenarnya adalah tambang emas. Benar-benar tambang emas lho,” menunjuk ke gedung pendidikan quran ini.
Alis saya berkerut berpikir, membatin “Tambang emas bagaimana maksudnya?!” saya berpikir. “Maksudnya, om?” kemudian saya bertanya memperjelas.
“Coba bayangkan, sejak saya mendeklarasikan mewakafkan tanah ini. Kemudian tiba-tiba, tanah di sebelahnya ikut di wakafkan. Besoknya, datang entah dari mana sampai 15.000 batu-bata, semen bersak-sak, pasak besi, dan pasir. Sopir yang mengantar hanya diminta untuk mengantar dan tidak memberi tahu siapa yang memberi.” Lanjut kisahnya tak terputus. “Kemudian, sontak mau tidak mau harus mulai bangun ini gedung. Nggak nunggu beberapa lama setelah gotong royong, gedung ini bisa berdiri seperti ini dah.” Dia berkisah sambil terkagum-kagum dengan niat kuatnya disambut gayung bersambung.
Saya masih bungkam. Kemudian berdecak, menggeleng-geleng, “Keren, om” hanya itu yang keluar dari mulut saya. Tanah kampung ini sangatlah kaya dengan orang-orang berhati besar. Mereka yang tidak pernah miskin dengan kata ‘harta’ karena mereka memiliki kekuatan yang tidak terlihat di mata orang pada umumnya. Pakaian mereka lusuh, keringat mereka bau sawah dan kebun, kulit mereka sawo ‘gelap’ matang tersengat siang, kendaraan mereka hanya rangka motor tidak berplat dan hanya digunakan untuk ke sawah saja, tapi mereka seperti punya istana yang ‘tak tampak yang hati mereka seperti tidak memiliki keraguan untuk mengabdikan hartanya pada pemilik kekayaan yang tak tergantikan yaitu Allah SWT. Ini salah satu cara saya belajar dari kehidupan, yaitu bertemu dengan orang-orang yang hidup dengan caranya masing-masing. Mungkin tidak semua dari apa yang mereka lakukan harus dilakukan juga oleh kita, tapi apa yang baik dan membuat mererka berkembang bisa dipelajari untuk diduplikasi.
“Ini belum seberapa, mas.., sebenarnya saya tidak mau bercerita. Ini berawal ketika itu,” sambil mengisap rokoknya bapak yang memiliki lahan penjemuran dan penggilingan padi ini melanjutkan ceritanya. Badan saya mendekat, pandangan saya tajam penasaran apa yang akan menjadi kelanjutan dari kisah ini. (L)
Ditulis oleh L. Helmi Sulaiman Haris, S.Kom.I., CH., CHt.
Executive & Life Coach, Bussiness & Management Consultant, Trainer Nasional, Pendamping/Fasilitator Koperasi dan UMKM, Executive Faciltator Based Instiute,
Trainer FAST Indonesia, Trainer Kuncoro Leadership

Komentar

Postingan Populer