SUASANA KAMPUNG HALAMAN
Perayaan Hari Raya Idul Fitri selalu identik dengan suasana syahdu
malam dengan gema takbir menghentak langit, kembali ke kampung halaman dan
berkumpul dengan sanak keluarga. Sudah dua tahun ini wabah virus Covid-19
menuntut pemerintah untuk membatasi perkumpulan dan berimbas kepada migrasi
pulang ke kampung diperketat. Meskipun banyak berita yang memaksa untuk tetap
pulang kampung dengan berbagai macam cara, pemerintah tetap bersikeras menekan
laju kemungkinan penyebaran virus dengan cara terbaiknya salah satunya dengan menggunakan
prosedural tes swab antigen dan surat kesehatan khusus. Hanya kalangan tertentu
saja yang diperbolehkan untuk melakukan perjalanan, seperti pejabat pemerintah
dalam tugas dan kondisi ada keluarga meninggal/kondisi tertentu.
Sayapun demikian, prosedural tetap harus dijalani untuk bisa
kembali berkumpul dengan keluarga. Terhitung sudah hampir 4 tahun, saya tidak
pulang kampung sejak melaksanakan pernikahan tahun 2017 lalu. Meskipun di Musi
Rawas adalah kampung halaman istri, tetap saja ini adalah kampung kedua saya
meskipun saya tidak besar disini, ada tantangan untuk beradaptasi dengan
kampung kedua dengan kultur budaya yang sangat berbeda. Saya lahir dan besar di
adat Sasak di Lombok, ketika merantau berkumpul dengan adat Madura dan Jawa,
dan saat ini saya berada di Tanah Sriwijaya dengan adat Sumatera yang sudah
terafiliasi dengan Jawa karena disini adalah daerah transmigrasi. Menarik sekari
merasakan berbagai macam budaya dan kultur kekayaan yang dimiliki Indonesia.
Hampir sebulan sejak menginjakkan kaki, suasana baru kental terasa
mengingatkan saya dengan motto saya jika berada di tempat baru, ‘Awal adalah keterasingan.’.
Masih asing memang terasa, perlahan menyapa dan membabat alas perkenalan
menyelam perkumpulan-perkumpulan sesekali untuk lebih mengenal kebiasaan
kampung halaman. Saya teringat pesan bapak, ‘Dimanapun berada kembalilah ke
Masjid,’. Saya coba menerjemahkan maksud bapak dalam perkataan ini, dan saya
memahaminya dengan makna bahwa di Masjidlah tempat bertemu orang-orang baik
yang mungkin bisa masuk dan mengajak pada dalam lingkungan yang baik pula. Sebelum
meninggalkan kampung di Lombok pun ketika menjabat tangan nenek yang sudah
sepuh dengan haru dan tangis yang menetes di pipi pesannya jelas saya genggam dalam
hati, ‘Jangan lupa sholat, ibadah. Doain kita-kita juga.’ Haru hati ini
mendengar pesan itu dari bibir nenek yang semakin menua. Pesan-pesan itu masih
terpatri dalam sanubari sosok anak dan cucu yang semakin dewasa ini.
Meskipun cukup gerah dan kipas selalu berada pada tombol ‘on’
dan anginnya terus menyapu kamar, keramahan para tetangga tidak sepanas cuaca setiap
harinya. Dulu memang ini adalah daerah transmigrasi penduduk jawa dari berbagai
wilayah, sehingga masih tersisa budaya jawa dengan tutur kata santun yang sudah
bercampur dengan gaya bahasa Sumatera, asimilasi budaya. Saya sedikit familiar
dengan bahasa jawa, jadi adaptasi yang saya lalui tidak terlalu jauh. Saya terkagum-kagum,
daerah perkebunan dan persawahan yang masih terbentang, perairan yang terus
mengalir deras mengisi penuh lahan kolam ikan, halaman setiap rumah yang masih
luas dan dihiasi rerumputan hijau dan berbagai macam tanaman, sepeda poenix
masih terparkir kokoh depan rumah, sesekali hujan jatuh dan membuat genangan jadi
tempat bebek dan ayam bermain di halaman rumah tidak bosan, sungguh indah
suasana ini. Saya cukup menikmatinya.
Terlebih satu hal yang saya soroti, ketika berbagi kebutuhan pokok atau
kebun (sayur dan buah), tidak ada komersialisasi dalam transaksi ini, murni hal
ini adalah kekuatan kampung. Saling bercengkrama bercerita di teras tetangga
adalah simbol kedekatan dan keakraban. Ketika ada tetangga yang berpulang,
informasi sekampung dengan cepat menyebar dan warga berbondong datang melayat
ke rumah duka, dan ketika malamnya warga datang untuk menggemakan doa. Sungguh indah
suasana di kampung halaman, banyak hal yang belum saya sentuh dan eksplorasi
lebih jauh lagi. Sepertinya seru untuk menajajaki setiap tapak tanah kampung. Mari
lihat sebanyak potensi apa yang dimiliki kampung. (L)
Ditulis dengan
sadar dalam sebuah refleksi harian
Menikmati
Suasan Berkumpul Kampung Halaman
Musi
Rawas, 24 Mei 2021

Komentar
Posting Komentar
put ur comment here