SENJA MAS CANDU
Bagaimana kalian
menikmati senja? Memandang rona menguningnya langit dengan sepenuh hati sambil
mengingat kenangan masa lalu? Joging sore bersama teman tanpa memedulikan warna
ronanya, hanya menikmati suasana sore sudah dirasa cukup? Atau hanya menikmati
suasana lalu-lalang para manusia yang keluar di sore hari saja? Tentu setiap
orang punya cara menikmati senjanya masing-masing, begitu juga dengan kisah dibalik
senja mereka.
Berbicara tentang senja, sesungguhnya
senja adalah penutup hari dan pembuka tabir-tabir malam. Senja kali ini saya
berada di Tanah Sriwijaya dengan langit kelabu akibat gumpalan awan yang masih
setia manaungi bumi. Beberapa awan terbuka berbentuk wilayah yang tidak beraturan,
menampakkan biru langit yang mengintip melihat wajah penghuni bumi yang
penasaran dengannya. Biru langit tidak cukup kuat untuk mendominasi awan
kelabu, sehingga mereka sepertinya pasrah menerima kondisi senja kali ini.
Kelabu berangsur-angsur menyambut petang.
Namun aku masih menikmati
suasana rona kuning yang masih memberontak untuk terlihat dari balik awan kelabu
itu. Awan tidak mau kalah, sesekali ia berdehem ‘Gluduk’ tanda akan turun
hujan. Langkah kakiku masih berjalan menyisir ke arah barat melangkah santai.
Kebetulan arah barat dari rumah ada lahan kolam ikan seluas seperempat hektar
dan lokasi bermain volly masyarakat. Dari rumah ke arah barat sudah wilayah
perbukitan dan perkebunan. Hari ini sepertinya tidak ada yang bermain volly,
jadi aku memilih melangkah ke kolam ikan menghampiri seorang yang bediri di
pematang kolam sambil membawa ember hitam.
‘Ngasih makan, mas?’
tanyaku sambil tersenyum simpul mendekat menyapa Mas Candu.
‘Hooh, mas. Jadwal makan
sore rutin ki,’ jawabnya sambil melempar pakan ikan ke permukaan air
dengan kumpulan ikan nila yang sudah membuka mulutnya lebar.
‘Sudah tahu ya dia kalau
ada yang berdiri dipinggir gini, pasti merapat ikannya, mas..,’ sapaku
meneruskan.
‘Iya, mas.., sudah tahu
mau dikasih makan makanya pada ngampirin. Mau coba?’ tawarnya
menyodorkan ember pakan ikan padaku, ‘tapi agak bau, mas..,’ lanjutnya. Aku
menjulurkan tangan, mengambil segenggam dan melemparkan ke permukaan air kolam.
Kemudian ikan-ikan berebut makan itu.
‘Berapa bulan lagi panen
ini, mas?’ tanyaku terkagum-kagum melihat banyaknya ikan di kolam ini.
‘Sekitar 2 bulan lagi
bisalah diangkut mas. Kalau di kolam sana,’ angkat tangan Mas Candu sambil
menunjuk ke arah barat daerah perbukitan, ‘ada lele juga,’ aku semakin berdecak
kagum kalau membahas usaha perikanan disini. Karena memang perairan disini
memiliki potensi yang sangat menggiurkan. Seperti yang sudah saya tulis dalam
tulisan Bisnis Kampungan. Potensi selalu ada dimanapun kita berada.
‘Rutin mas sore-sore gini
ngasih makan ikan?’ tanyaku melanjutkan obrolan kita.
‘Iya rutin, sore gini
jadwalnya ikan yang dikasih makan,’ tawanya memecah senja kali ini.
Beginilah senja bagi Mas
Candu, pria periang berusia hampir kepala empat itu. Badan pria kelahiran 80-an
itu tidak seperti anak remaja saat ini yang kebanyakan bertubuh besar dan
tinggi. Badannya persis badanku, kecil dan kurus. Hanya saja ototnya lebih
tertata karena aktifitas angkat beratnya ‘berkebun dan bertani’ yang rutin.
Salut sama sosok ini, gaya priangnya dan supel terhadap setiap tetangga bertemu
dengannya. Satu lagi, ketika motornya mulai ‘meraung’ berarti pria ini sudah
bersiap untuk dinas ke kebun dan bertani.
‘Senjamu sepertinya
selalu asik, mas.’ Tutupku dengan tawa. (L)
Ditulis dengan sadar dalam sebuah
refleksi harian Kala Menikmati Senja dari Sudut Kampung A Widodo, Musirawas, 29
Mei 2021
Ditulis oleh L. Helmi Sulaiman Haris, S.Kom.I., CH., CHt.
Executive
& Life Coach, Bussiness & Management Consultant, Trainer Nasional,
Pendamping/Fasilitator Koperasi dan UMKM, Executive Faciltator Based Instiute, Trainer
FAST Indonesia, Trainer Kuncoro Leadership

Komentar
Posting Komentar
put ur comment here