HARI TANPA SENYUM AYAH

Tepat hari ini, saya menghadiri perayaan ulang tahun pertama anak dari teman akrab istri, Ajeng namanya. Dulu sekitar tahun 2017 saya pernah bertemu dengannya, kala itu dia bersama calon pendamping hidupnya menemani kami menikmati suasana Sumatera. Pada tahun yang sama, tepatnya bulan Nopember 2017, setelah menuntaskan akad nikah dan resepsi, saya dan istri kembali meneruskan perjalanan merantau kami ke Yogyakarta selama satu tahun kemudian Lombok selama hampir 3 tahun. Lama kami tidak bertatap, hanya melalui perpesanan singkat saja sapaan bertemu. Hari ini kami kembali bersua dengannya, sekarang kami berdua sudah memiliki personil tambahan masing-masing yaitu anak, begitu juga dengan dia. Hanya saja yang berbeda dari kami berdua saat ini adalah dia sudah tidak bersama dengan suaminya yang dulu membersamai kami.

Di hari bahagia anakanya ini, saya tahu bahwa ada ketegaran yang dipaksakan di wajahnya sebagai seorang istri dan ibu dari seorang anak laki-laki. Setiap kata-katanya yang keluar menguatkan kondisinya sendiri dan menghibur perasaan anaknya yang baru merayakan ulang tahun perdana. Kami yang datang sebagai teman dekat sepatutnya mencoba berempati dengan apa yang dia rasakan saat ini. Merayakan hari bahagia tanpa senyum seorang ayah.

Eza nama panggilan anaknya. Usianya baru satu tahun tepat di tanggal 25 Mei ini. Anak laki-laki berbadan mungil, bermata sipit dan berambut tipis. Kalau mau mengitari rumahnya, anak dengan berat badan 8 kilo itu baru bisa berkeliling dengan merangkak. Boneka ‘Hello Kitty’ harus membersamainya ketika bangun tidur atau jalan-jalan. Kala malu-malu, senyumnya dia palingkan ke arah kiri sambil tersenyum tipis. Itu saja yang bisa saya ceritakan dari seorang anak yang tengah berbahagi tanpa adanya seorang ayah di hari bahagianya saat ini.

Memang perayaan ulang tahun ini dikemas sangat sederhana tidak ada undangan ke banyak orang dengan pemasangan terop berbaris rapi, panggung, atau nyanyian bergema. Hanya kami berenam undangan untuk memeriahkan hari spesial ini. Bisa disebut ini adalah undangan VVIP. Hanya saya seorang diri sosok laki-laki dikerumunan mereka dan anak saya adalah anak perempuan usia 2,5 tahun sendiri yang menghadiri undangan ini, sisanya adalah para wanita. Dengan berbekal balon dan kue ulang tahun, perayaan ini sudah dianggap cukup. Speaker bluetooth dengan lagu ‘Selamat Ulang Tahun’ dari Jamrud menemani wifie kami bersama kue ultah Eza. Canda-tawa sesekali menemani kami berdialog agar suasana tidak kaku. Tujuan kami hadir sama, yaitu menghibur Ajeng dan Eza di hari spesial ini.

Sampai paragraf ini. Jika ada yang bertanya, kemana ayah Eza sebenarnya? Jika ada yang beranggapan ayah Eza sudah ‘berpulang’ jawabannya salah. Ayah Eza ada, masih hidup, tapi entah memilih untuk tidak hadir atau tidak diberi kabar akan perayaan hari spesial ini. Kok Bisa?! Sebenarnya apa yang terjadi?! Inilah yang akan menjadi cerita saya di beberapa paragraf berikutnya.

Usia pernikahan Ajeng masihlah muda, baru berusia sekitar 2,5 tahun sampai momen perayaan hari sepsial ini. Informasi pernikahannya pun sampai pada kami berdua di pulau seberang. Siapa yang tidak bahagia mendengar kabar bahagia ini. Meskipun gonjang-ganjing kabar burung sempat kami terima, karena Ajeng menikah harus melompati kakak wanitanya yang belum menemukan jodohnya. Beginilah tantangan pernikahan dibeberapa kasus yang kerap kali terjadi. Namun pernikahan mereka tetap berlangsung dengan mengabaikan kondisi kakaknya. Dari foto yang tersebar sampai pada kami di pulau seberang, tampak senyum mereka melebar bahagia menjalani proses ini dan suasana pesta yang begitu meriah kami dengar dari teman-teman yang hadir kala itu. Hanya doa melalui telpon yang kami bisa sampaikan ketika acara itu berlangsung.

Hari terus berlalu, mereka menjalin kisah rumah tangga mereka seperti pada umumnya orang baru berumah-tangga. Foto bahagia mereka tersenyum di hadapan kamera melintas di beranda media sosial. Saya yang melihatnya pun ikut tersenyum. Beberapa saat kemudian, sesekali mereka bercerita tentang kondisi rumah tangga mereka yang harus tinggal di tempat suami di lokasi yang agak jauh dari rumahnya. Disana, Ajeng pun hanya menjadi ibu rumah tangga dengan aktifitas yang minim. Kami memahami sosok Ajeng adalah wanita yang suka beraktifitas. Aktifitasnya menjadi minim ketika berada di rumah suaminya. Kemudian sampai situ, kami mengetahui bahwa Ajeng mengajukan usul untuk tinggal di kontrakan dekat kediaman orang tuanya yang berjarak sekitar 1,5 jam dari rumah suaminya saat ini. Usul ini disampaikan karena Ajeng sudah masuk masa mengandung. Suaminya meng-iya-kan, dengan konsekuensi jika pindah ke kontrakan yang diinginkan, berimbas dengan aktifitas suaminya yang akan bolak-balik jika hendak berangkat kerja.

Saya pikir hal ini selesai dan sudah teratasi dan mereka menjalani rumah tangga dengan asik. Kisah rumah tangga selalu berbeda dan memiliki dinamikanya. Barangkali banyak kisah yang belum saya ketahui. Tapi semua itu ternyata adalah permulaan dari konflik yang mengiringi kisah rumah tangganya. Titik puncaknya terjadi ketika Ajeng melahirkan dan dibawa ke rumah suaminya. Entah bagaimana, Ajeng merasa diperlakukan berbeda di rumah suaminya. Dia merasa lebih sensitif dan seolah merasa disalahkan dalam setiap sikap-sikapnya. Ada titik dimana dia merasa stress berada disana dan seolah tidak betah dengan berbagai macam alasan, seperti keluarga suami ada yang menderita ayan dan khawatir tertulan dan mertua laki-lakinya memiliki ilmu hitam. Selain itu juga komunikasinya dengan keluarga dan kami berdua seolah dibatasi oleh sang suami. Dia harus curi-curi waktu untuk bisa berkomunikasi bahkan chatnya seolah dipantau dan harus dihapus agar sang suami tidak megetahui isi pembicaraanya. Saya tidak pernah terbayang suami seperti ini.

Sampai suatu waktu Ajeng memutuskan untuk meminta keluarganya menjemputnya tanpa sepengetauan suaminya. Ajeng kembali ke kediaman orang tuanya bersama anaknya. Suaminya merasa dilangkahi dan tidak dihargai sebagai seorang kepala keluarga. Seketika itu juga suami Ajeng menghubungi kami berdua dan curhat terkait kondisinya. Semua tersentral pada kami, Ajeng bercerita kondisinya dan mengharap kami juga memihaknya. Perseteruan semakin memanas antara mereka, fakta-fakta baru bermunculan, saling hasut dan melecehkan terus terjadi, mereke berdua seolah sudah tidak saling menghargai. Semua kisah itu tersentral di kami berdua, entah orang lain di sekitar mereka mendengar selengkap ini atau bahkan berlebih. Kami berdua hanya menerima informasi dari kedua belah pihak dengan versi mereka masing-masing dari kejauhan, dari pulau seberang. Kami berdua mencoba menengahi dengan fakta-fakta yang kami terima dari masing-masing mereka, sampai akhirnya kami memilih untuk tidak terlibat terlalu jauh.

Saat ini, mereka sudah bersepakat untuk mengakhiri hubungan rumah tangga mereka. Hal ini barangkali adalah jalan terbaik dari problematika mereka saat ini. Saya tidak bisa berkata banyak. Ketika mengetahui kondisi ini dan bertemu secara langsung di Sumatera, saya pribadi lebih memilih diam dan berpikir mendalam, ‘Apa jalan keluar yang bisa menyatukan mereka?’. Ada keinginan dalam hati untuk membantu mereka rujuk dan bersama kembali. Namun, dari setiap kata yang keluar dari mulut mereka dan ketidak-beranian menyelesaikan apa yang sudah dimulai, sepertinya ini adalah satu hal yang agak sulit untuk diwujudkan. Saat ini, yang terbayang dari benak saya hanya Eza. Bagaimana dia besar dengan tanpa sosok Ayah disampingnya. Beberapa kali Eza memandangi saya, dan malu-malu kala saya menjulurkan dua tangan untuk menawarkan menggendongnya. Ajeng berbisik di telinga Eza, ‘Mau digendong sama Pakdhe?’. Kemudian istri saya mendekat dan berbisik lirih, ‘Sepertinya dia rindu sosok ayah,’. Saya terdiam.

Ditulis dengan sadar dalam sebuah refleksi harian

Menghadiri Ulang Tahun Seorang Anak tanpa ‘Senyum’ Ayah

Musi Rawas, 25 Mei 2021

Komentar

Postingan Populer