BISNIS KAMPUNGAN
Hidup di kota besar dengan berbagai macam fasilitas publik dan
kemudahan akses menjadi salah satu ‘kemanjaan’ tersendiri. Seperti kemudahan dalam
memperoleh pelayanan publik seperti wifi, perpustakaan, dan fasilitas umum yang
bisa dinikmati sambil menikmati senja. Selain itu, kemudahan dalam mengakses
antar perbankan dan perkantoran yang masih terjangkau dan pemenuhan kebutuhan
skunder seperti fotocopy dan perlengkapan perkantoran lainnya.
Saya mengalaminya secara langsung, ketika kembali ke kampung halaman
di Lombok – NTB dan Musi Rawas – Sumatera Selatan saat ini, semua seperti
kembali menjadi primitif. Artinya beberapa kebutuhan yang dahulunya jika berada
di daerah perkotaan bisa dilakukan dengan cepat karena fasilitas yang memadai,
sekarang harus memakan waktu dan usaha yang lebih keras dan kesabaran yang
tinggi. Maka berbahagialah kalian yang terfasilitasi dan bisa memanfaatka
fasilitas itu dengan maksimal. Seperti contoh, ketika mengakses perbankan dan
perkantoran butuh menembus trik panas mentari dan menempuh jarak berkilo-kilo. Lain
dari itu, bagamaian dengan perpustakaan? Perpustakaan ada, namun ketika
berkunjung suasana seperti memasuki rumah hantu, suasana remang dengan barisan lemari
buku yang berdebu. Kalau dengan fotocopy? Fotocopy ada, namun pelayanan dan
mesin yang tidak seberapa mendukungnya dengan kecepatan yang biasa dirasakan. Menjalani
hal ini, saya hanya bisa menghela nafas dan menikmatinya sambil mendengarkan lirik
lagu Dewa ‘Hadapi dengan senyuman’.
Semua yang saya ceritakan di atas merupakan hal-hal teknis yang sangat
bisa mendukung kecepatan pergerakan aspek yang sangat penting, seperti perkembangan
ekonomi dan bisnis. Bagaimana jadinya kalau pelayanan lambat dan akses yang
tidak mendukung percepatan perkembangan itu?! Jelas akan berimbas terhadap perkembangan
aspek tersebut. Kemudian jika ingin
dipercepat butuh pelicin, ah sudahlah ini adalah pembahasan yang
berbeda, bukan dalam topik kali ini.
Menyikapi hal ini, saya yang sudah terbiasa berada di lingkungan
bisnis dengan tim yang selalu melakukan percepatan berpikir dan bertindak pun berpikir
mendalam, bagaimana ekonomi-bisnis berkembang di daerah seperti ini. Kemudian saya
melakukan beberapa penjajakan dan observasi dimana perputaran ekonomi terjadi,
yaitu pasar, usaha masyarakat seperti warung klontong dan toko-toko, serta
perkembangan ritel moderen. Lain dari itu lingkungan sosial seperti masjid dan
kehidupan bermasyarakatnya juga menjadi objek observasi saya.
Dalam tulisan singkat ini mungkin saya tidak bisa menyampaikan
hasil observasi secara terperinci. Beberapa yang saya peroleh meskipun tidak
bisa dipungkiri hal ini pasti adanya adalah kampung halaman selalu memiliki
kekuatan-kekuatannya tersendiri. Termasuk disini, di Tugumulyo (Musi Rawas,
Sumatera Selatan) yang merupakan wilayah transmigrasi sejak 1937 dengan
perairan irigasi yang melimpah dan lahan luas yang produktif. Di beberapa
tempat di sekitar sini barangkali perkebunan karet dan sawit menjadi primadona,
namun disini bertani-berkebun dan beternak menjadi kekuatan. Sehingga memungkinkan
konsep agribisnis menjadi kekuatan ekonomi-bisnisnya.
Jika ada yang bertanya, seperti apa perkembangan agribisnis masyarakat
yang sudah berjalan di Tugumulyo? Dari hasil observasi saya, penjualan pisang lilin
1 sisir bisa dijual dengan biaya Rp. 6.000 – Rp. 7.000/sisir yang jika
dibandingkan dengan beberapa kota yang pernah saya jajaki yang bisa dijual
sampai Rp. 20.000/sisir. Karena daerah dengan jumlah air yang tinggi, jadi
memang pertumbuhan pisang sangat tinggi. Selain itu petani ikan air tawar (Nila,
Gurame, dan Lele) bisa menghasilkan dan menjual sampai 3 Ton setiap kali panen,
keren ‘kan? Sedangkan penjualan ayam potong bersih dari setiap penjual bisa
sampai 50 – 200 potong per harinya. Dari aspek giat sosialnya di masjid, salah
satunya yang saya soroti, dengan ukuran masjid kampung sekitar 10x10 m2 bisa
mengumpulkan infaq masjid sampai 3 juta dalam sekali acara keagamaan, sedangkan
di masjid yang berbeda bisa mengumpulkan sampai 20 juta. Saya berdecak kagum. Satu
waktu nanti saya akan bercerita tentang gotong-royong suasana kampung yang
menarik untuk diceritakan.
Sebagai penutup, saya sangat terhibur disini melihat hamparan
hijaunya lahan yang terus ditanami, seolah tanaman-tanaman ini sangat percaya
diri untuk terus tumbuh. Perairan yang terus teraliri air masuk ke sela-sela petakan
sawaa-perkebunan masyarakat. Sungguh kampung yang memiliki kekuatan dan saya yakin
sepenuhnya setiap kampung halaman memiliki kekuatannya masing-masing. Tinggal bagaimana
kita menemukannya dan berbisnis ala kampung, namanya juga bisnis
kampungan.
Ditulis dengan
sadar dalam sebuah refleksi harian
Berpikir
tentang Pengembangan Bisnis Potensi Desa
Musi
Rawas, 26 Mei 2021

Komentar
Posting Komentar
put ur comment here